Rabu, 16 Oktober 2013

Contoh Cerpen Horror~~~Wanita Malam


Wanita Malam
            Elang masih sibuk mengerjakan segala laporan perusahaannya, berkutat dengan kertas- kertas serta coretan- coretan kertas di meja kerjanya. Elang tidak menyadari bahwa jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Esok hari Elang harus membereskan segala laporan yang ada dan menyerahkannya kepada bosnya. Akhirnya Elang menyerah juga, Elang memutuskan untuk pulang ke rumah dan beristirahat serta jika masih memungkinkan ia akan mengerjakan laporannya dini hari di rumahnya.
            Hari itu jalan Astana ditutup karena ada sebuah penggalian jalan, akhirnya Elang pun berbalik arah dan mencari jalan lain. Ia pun melewati jalan Angsa, saat itu waktu telah menunjukkan pukul 11 malam. Ketika ia berjalan melewati sebuah halte, terdapat seorang wanita duduk dipinggir halte, tampak sedang menunggu bus.
            Elang mengamati sosok wanita itu, ia mengenakan sebuah gaun panjang berwarna biru tua. Rambutnya lurus sebahu dan membawa beberapa buah buku. Disana wanita itu tersenyum pada Elang, Elang merasa bahwa ia mengenal wanita tersebut. Setelah ia mengamati wanita itu ternyata ia adalah teman sekampus Elang dahulu, Luna Aprilia Mustika. Elang pun menghentikan mobilnya dan tersenyum pada Luna.
“Luna?”
Luna menganggup dan tersenyum, secercah senyum mengambang dari mukanya.
“Bareng yuk?” tanya Elang.
Luna hanya mengganggukkan kepalanya kecil dan kembali tersenyum kepada Elang. Elang pun mengantarkan Luna hingga ke rumahnya, beberapa tahun yang lalu ketika mereka masih kuliah, Elang pernah mengantar Luna pulang. Luna tersenyum pada Elang dan menyalami tangan Elang. Luna begitu harum dan cantik malam itu, hingga semalaman setelah ia mengantar gadis itu pergi ke rumahnya, ia masih memikirkan gadis itu. Senyumannya, binar matanya, bahkan sifat kaku dan diamnya yang hingga kini masih dimilikinya. Hanya ada yang berbeda pada malam itu, parfumya  kini harum melati padahal sebelumnya Luna menyukai bau parfum yang ceria.
            Keesokan harinya, Elang pulang pukul delapan malam dari kantornya, ia sengaja pulang lebih awal agar bisa bertemu Luna. Ia rasa ia mencintai Luna, padahal dulu saat kuliah ia tidak merasakan getaran yang aneh dikala bertemu Luna, namun kini, hanyalah Luna yang ada didalam fikirannya.
            Belum lama ia memasuki jalan Angsa, ia langsung menemukan Luna. Disana, Luna mengenakan gaun berwarna hitam panjang. Ia tampak begitu anggun dan menawan. Akhirnya, Elang pun kembali mengajak Luna pulang bersama. Luna mengajak Elang berjalan sejenak ditaman, disana Luna dan Elang saling tersenyum, tangan keduanya saling bergenggaman, namun entah mengapa hari itu Luna begitu dingin, tidak seperti biasanya, harum melatinya semakin menyengat.
            Luna pun akhirnya kembali diantar pulang oleh Elang ke rumahnya, disana Luna melambaikan tangannya dan memberikan senyuman manis untuk Elang. Malam itu begitu dingin, Elang memberikan jaketnya untuk Luna. Luna mengenakan jaket cokelat Elang tersebut dan kemudian Luna memasuki rumahnya.
            Elang mengawali harinya dengan berbunga- bunga, temannya Kasih bingung melihat perubahan sikap Elang yang tiba- tiba.
“Elang? Kamu lagi jatuh cinta ya?” tanya Kasih pada Elang.
“Hmmm...menurut kamu? Iyadong...” jawab Elang sambil tersenyum, ia terus mengetik laporan dengan semangatnya sambil bersenandung kecil.
“Sama siapa nih Elang jatuh cintanya?” tanya Kasih penasaran pada Elang. Sebelumnya, Elang jarang sekali tampak jatuh cinta atau sebahagia ini.
“Elu tahu kok...temen kampus kita dulu, anak UGM juga...” jawab Elang dengan singkatnya.
“Kamu jatuh cinta sama Ratih ya....anak fakultas MIPA?” tanya Kasih penasaran.
“Bukan... yang diam, kaku, cantik dan anggun...hayo siapa?” tanya Elang membuat Kasih penasaran.
“Jangan bilang Luna.... haha masa iya Luna ada ada aja deh!” jawab Kasih sambil tertawa.
“Lho kok tau sih!” jawab Elang.
“Apa Lang? Lu nggak bercanda kan?” jawab Kasih...raut wajah Kasih menjadi begitu panik.
“Kenapa sih?” jawab Elang.
“Hey.... Elang..Luna itu udah meninggal....” jawab Kasih pelan.
“Apa ? lu jangan bercanda deh...” jawab Elang.
“Serius.....” kata Kasih.
“Udah ah.,,, lu mah ada- ada aja,” kata Elang. Elang kemudian meninggalkan kasih dan memilih makan siang di kantin bersama teman- temannya yang lain. Ia tidak memperhatikan apa yang diucapkan Kasih, yang ia tahu kini Elang dan Luna saling menyayangi.
 Keesokan harinya, Elang berniat mengambil jaket ke rumah Luna sekaligus mengajak Luna berjalan- jalan. Ia pun pergi ke rumah Luna dengan membawa seikat mawar merah. Setelah ia mengetuk pintu keluarlah sosok ibunda Luna, Elang pun langsung mencium tangannya.
“Eh nak Elang...mencari siapa ya?” tanya ibunda Luna.
“Aku nyari Luna tante... dia lagi sibuk nggak hari ini?” tanya Elang pada ibunda Luna.
Ibunda Luna kemudian mengajak Elang ke dalam rumahnya. Disana ibunda Luna memberikan sebuah kotak milik Luna, disana terdapat banyak foto Elang, puisi untuk elang, bahkan surat cinta yang ditulis Luna untuk Elang. Disana juga terdapat sebuah jam tangan yang dibungkus kotak merah nan indah.
“Aduh...Luna romantis banget ya...aku jadi malu nih bu,” kata Elang sambil mengamati foto- foto dirinya. Ia juga membaca curahan hati Luna yang berisi tentang kecintaannya terhadap Elang, namun ia mencintai Elang dalam diam.
“Oh iya... Lunanya mana ya bu?” tanya Elang.
“Nak...luna mengalami kecelakaan tepat setahun yang lalu..dan dia meninggal,” jawab lirih ibunya kepada Elang.
“Ia mengalami kecelakaan di jalan Angsa ketika malam hari,” tambah ibunya dengan lirih.
Elang tidak dapat berkata- kata selama ini....Luna... wanita pada malam itu..
“Nak... Luna ingin sekali memberikan hadiah jam tangan ini untukmu, ibu harap kamu mau ya menerima ini, jika kamu mau ibu akan mengantarkan kamu hingga ke makamnya,” kata ibunya.
“Iya bu...aku menerima hadiah ini. Ayo bu, mari kita ke makam milik Luna.”
Akhirnya, Elang pun tiba di pemakaman milik Luna, disana ada jaket cokelat milikinya, yang ia pakaikan kepada Luna ketika mengantarkan gadis itu pulang. Ia pun segera mengambil jaket itu, setelah itu ia mengaji untuk Luna. Elang pun menaruh mawar merah yang telah ia bawa diatas makam Luna.
            Malam berikutnya, ia melewati jalan Angsa lagi, sosok Luna telah menunggunya, namun kali itu Elang hanya tersenyum pada Luna, meninggalkannya di halte. Ketika ia menatap kaca spion bayangan luna telah karam dimakan malam... bayangan Luna menghilang.
            Ia pun sempat bermimpi didatangi Luna didalam tidurnya.
“Terimakasih Elang untuk segalanya...dan selamat tinggal..”
“Luna.... ?”
“Iya... ? aku selalu menyangimu Elang...”
“Selamat tinggal....”
Dan bayangan Luna menghilang, seperti malam- malam selanjutnya ketika ia mengunjungi jalan Angsa lagi, tak ada lagi sosok Luna, tak ada lagi sosok wanita yang duduk di halte tengah malam....kini ia berada di alam yang lain, yang akan mengantarkannya beristirahat untuk selamanya. Selamat tinggal Luna...Selamat tinggal wanita malam...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar